Cemburu.

Setahun lalu, Seseorang pernah bercerita: pacarnya terlalu posesif. Kemanapun laki-laki ini pergi,dengan siapapun dia bercanda, perempuannya cemburu. Sampai berfoto pun,laki-laki itu harus menjaga jarak,demi perempuannya yang “cemburuan” itu.

Waktu mendengar ceritanya aku tertawa. Tidak habis pikir. Untuk ukuran laki-lakinya yang se-setia itu, kenapa dia harus cemburu ? Bercanda tawa dengan teman-temannya juga sah-sah sajaa. Apa yang membuatnya harus cemburu ? Konyol sekali,kataku waktu itu.

Aku tertawa,ku katakan pada laki-laki itu : perempuan-mu terlalu berlebihan. Lucu sekali.

Dan hari ini kejadiannya berbalik.

Tiba-tiba aku merasa berada di posisi perempuan itu. Hanya melihat pacarku jauh disana,bercanda ria dengan orang lain, tiba-tiba aku merasa cemburu sekali. Jarang kulihat tawanya yang seperti itu selama ini.

Aku sadar sekali, aku cemburu. Tapi akal sehatku masih berjalan. Aku mencoba memahami keadaan,maklum aku cemburu, kami pacaran jaraknya jauh dan jarang bertemu. Aku juga mencoba memahami perasaanku. Kubiarkan diriku merasa cemburu tanpa merusak suasana. Benci sekali rasanya harus memiliki perasaan seperti ini.

Hal pertama yang kuingat setelahnya adalah “perempuan itu”. Dulu aku menganggapnya berlebihan tanpa mencoba memahami posisinya.

Setelah merasakan posisi yang sama, aku mulai sadar,ada perasaan yang kadang tidak bisa diatur, yang normalnya tidak ingin cemburu tapi perasaan ini jauh lebih kuat dari ukuran normal itu.

Posisi perempuan itu akhirnya kualami. Bedanya, bagaimana pintarnya kita men-siasati perasaan yang tidak menyenangkan itu,agar tidak merusak suasana orang lain.

Kalau masih bisa tahan, jangan merusak. Kalau tidak kuat, sampaikan pada yang bersangkutan.

Semudah itu,sebenarnya 🙂

Iklan

BAPAK TUA,PEDAGANG PULPEN.

Setelah selesai ujian yang berat pagi ini,aku buru-buru meninggalkan kelas menuju lift. Dari lantai 4 turun ke 1 rasanya lama sekali padahal perutku sudah berbunyi, mahasiswa ini lapar sekali astaagaaa… (Maklum,anak kosan pasti malas sarapan.)

Keluar dari lift,ternyata diluar hujan deras. Aku berhenti sejenak.

-Lumayan,Hujan bikin mellow,Hahaha

Sebelum akhirnya kupaksakan untuk berlari ditengah rintik hujan.

Dari jauh sebelum keluar gerbang kampus,Aku melihat seorang bapak tua terduduk, berteduh dibawah papan denah kampus sambil memegang jualannya,beberapa lusin pulpen.

Kasihan sekali.

Ditengah hujan seperti ini,dia masih berjualan dan sepertinya bapak itu terlihat kedinginan.

Langkahku memelan. Ku perhatikan dari jauh,ada yang sedang jongkok membeli jualan bapak itu. Syukurlah.

Langkahku semakin dekat,

Padahal isi dompetku benar-benar sekarat. Hanya tersisa lembar pecahan 20 ribu,10 ribu, dan 5 ribu rupiah. Aku sama sekali tidak ingin membeli, karena tanggal ini benar-benar tanggal sekarat untuk anak kosan sepertiku. Meskipun jujur kasihan sekali.

Ketika si bapak tepat di depanku, hatiku makin terenyuh. Ternyata bapak tua itu tidak bisa melihat. Dengan keterbatasannya itu, dia tetap berusaha mencari uang dengan cara yang benar.

Pikiranku yang awalnya tidak berniat membeli, terkalahkan oleh gerak refleks tanganku yang secepat kilat merogoh dompet yang sekarat di dalam tas.

“Berapaan pak?” Aku berjongkok meraih pulpen jualannya.

“5 ribuan neng” Sambil si bapak membuka lembar kertas kosong, untuk tes tinta pulpennya.

Ku coret-coret pulpen itu seadanya, toh tintanya bagus atau tidak bagus tetap akan kuambil,begitu pikirku.

Pulpennya bagus pak,saya ambil 2 yaaa” Ucapku sambil tersenyum.

Lalu bapak itu tidak henti-hentinya berucap “Alhamdulillahh alhamdulillahh….”

Aku berdiri lalu meninggalkan bapak tua itu.

Aku berjalan keluar menuju gerbang kampus.

Dari luar gerbang kulihat ada beberapa mahasiswa yang sepertinya akan membeli jualan bapak itu. Tanpa sadar aku tersenyum lega.

Semoga jualan bapak tua itu laku semua. Amin. Doaku.

#CeritaLDR, 2nd anniversary.

Selamat 2 tahun!

Ini foto pertama kamu yang aku simpan di ponselku setelah kita resmi berpacaran.

Dapat dari mana ? Jangan tanya,mataku ada banyak.

2 tahun sama kamu ternyata ngga berasa yaa. Banyak cerita yang kita bagi sama-sama. Ajaibnya,kita berbagi 95% via udara,dengan diselingi tatap muka via telefon yang bisa di hitung jari. Heheh. Kuat yah kita 🙂

Dibalik kuat-kuatnya kita yang kelihatan, aku tahu kamu disana juga berjuang. Sama seperti aku disini yang berjuang keras dalam banyak hal.

Aku pernah berkali-kali ingin lepas,lelah dengan keadaan, tapi sebanyak aku ingin lepas,sebanyak itu juga kamu berjuang bertahan, untuk kita. Terimakasih yaaa 🙂

Aku pernah berkali-kali memberontak diri, benci dengan keadaan kita yang terhalang jarak, benci dengan sikapmu yang terkadang menyebalkan, benci dengan pemikiran-pemikiran mu yang berbeda, tapi entah kenapa pulang padamu adalah hal yang menenangkan untukku.

Sampai aku sadar,kamu adalah rumah ternyamanku.

Selamat 2 tahun, selamat menghitung tahun-tahun berikutnya kita bersama, semoga tidak pernah terhenti hari-hari kedepan tempat kita menulis cerita hidup bersama.

Terlepas dari seberapa menyebalkannya kamu,kadang-kadang,

Tapi aku sayang kamu,tidak pernah berubah. Terimakasih sudah hadir ❤

Kali ini berat (lagi).

73509_167972593224609_1779666_n

Kali ini,aku berharap,sekali saja, kamu bermimpi tentang seorang wanita.
Wanita itu terduduk menangis,sendiri, didalam kamarnya.
Aku berharap kamu melihat wajah wanita itu baik-baik. Melihat bagaimana raut wajahnya,mendengar suara isak tangisnya.

Kali ini,aku berharap kamu paham. Wanita itu adalah aku.
Kenapa harapanku lewat mimpi ? karena dengan itu,setidaknya,kamu bisa merasakan dengan baik,kamu bisa sedikit paham apa yang aku rasakan.
Karena semuanya tidak akan pernah kamu pahami hanya melalui ketikan teks pesan.
Bahkan via telepon dan videocall pun kita jarang. Luar biasa untuk suatu hubungan yang dikatakan Long Distance ini.

Kemarin malam aku berada dalam keramaian. Aku tertawa,seperti biasa.
Dan ketika pulang, keramaian itu tidak ada lagi, aku terdiam sendiri.
Sejak awal aku sadar ada sesuatu yang salah. Dan keramaian itu membantuku untuk lupa sejenak. Tapi ketika semua hilang, aku teringat kembali. Kamu tidak pernah ada disini. Aku merindukanmu.
Ini bukan hal baru,andai kamu tahu. Dan entah kenapa, kemarin adalah waktu terbaik aku melepaskan semuanya. Aku terduduk disisi tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya.

Merindukanmu adalah bagian yang paling sulit dalam perjalanan ini.
Dan aku benci.

Kali ini, aku berharap, entah bagaimana rasa sesak ini bisa sampai padamu.
Meskipun harapan hanyalah harapan,tulisan hanyalah tulisan. Kamu tidak akan pernah tahu.

Yang penting “bukan” menyerah.

Dari yang kupahami, untuk mencegah rasa kecewa seseorang harus berhenti berharap. Dari yang kupahami, untuk berhenti berharap seseorang harus memulai dari niat..

Dan hari ini aku mengerti. Aku terlalu banyak berharap, seperti biasa. Dan itu yang membuatku banyak merasa kecewa.

Aku terlalu berharap prosesku sama seperti mereka. Aku berharap bisa seperti mereka. Dan kenyataannya berbeda. Sangat berbeda. Harapan hanyalah sebatas harapan.

Apa yang salah ?

Mungkin aku kurang beruntung.

Bukan. Sepertinya aku kurang bersyukur.

Jujur, untuk keadaan seperti ini aku benci untuk bersyukur.

Dan sepertinya aku menemukan akar permasalahannya. Aku akan berhenti.

Salahku terlalu banyak berharap,karna itu aku berhenti. Bukan menyerah dengan harapan itu,tidak. Aku hanya berhenti menyakiti diri sendiri. Selama ini aku lupa bahwa aku telah menyakiti diri sendiri. Sekarang tidak lagi. Aku berhenti.

Sekarang hanya perlu menjalani apa yang ada dengan tidak mengharapkan apapun lagi. Aku berhenti menyakiti diriku sendiri.

Sedikit lega, Dan semoga ini awal bahagia.

Hal pertama yang mengingatkan.

Desember lagi..

Dan malam ini aku duduk bersama orang banyak,ada banyak lagu yang kami nyanyikan bersama,mungkin bagian untuk bersenang-senang,mungkin bagian dari sukacita menyambut natal. Diantara semua lagu itu,ada satu lagu yang tiba-tiba mengingatkanku pada seseorang.

Kira-kira 3 tahun yang lalu,didalam gereja itu,saat ibadah natal,dia berdiri menghadap orang banyak. Menyanyi,dengan gaya khasnya.

Dan aku,seperti biasa,duduk dibelakang memperhatikannya dengan seksama. Sesekali kubuang pandanganku,sekedar untuk menyadarkan diri. Namun rupanya rasa sadar itu tidak bisa di atur lagi.

Lucunya,sepulang dari ibadah natal itu aku mencoba mengingat beberapa bait dari lirik lagu yang dia nyanyikan itu, kucari di internet dan kunyanyikan berkali-kali.

Lucu,bodoh,memalukan,atau apapun itu. Tapi aku bahagia mengingatnya. Aku bahagia memelihara perasaan seperti ini padanya. Mungkin tidak akan berubah,seberubah apapun keadaannya sekarang.

Perasaan yang dulu tetap sama dengan perasaan sekarang :’)

Sejauh ini.

Jujur. Rindu sekali :’)

Aku rindu “aku” yang dulu, yang bisa dengan mudahnya melepas beban dan seluruh keluh kesah padamu, semuanya kubagikan padamu,malu pun tidak kupedulikan,asalkan hatiku lega,dan kita kembali meluruskan yang salah.

Sekarang ? Mungkin semua tertahan ego. Aku yang sekarang lebih memilih,benar katamu, “menyimpan sendiri”. Kebiasaan baru yang membuat jarak kita semakin jauh rasanya. Atau mungkin kau masih berusaha dan aku sendiri yang menarik diri untuk menjauh.

Aku rindu “kamu” yang dulu, yang lebih erat merangkul atau apapun itu. Entahlah,sepertinya kamu yang sekarang mulai berbeda. Mungkin inilah proses waktu. Aku tak berhak menghakimi.

Sekarang ? Bagiku kita tidak lebih dari dua manusia yang terikat janji dan komitmen hubungan tanpa memikirkan bagaimana hubungan yang baik itu,bagaimana cara merangkul ketika yang satu sedang merasa ter-asing. Kita sama-sama lelah mungkin, sampai lupa cara menghangatkan kembali yang mulai dingin.

Jujur,aku rindu sekali pada kita yang dulu. Mungkin bagimu kita yang sekarang masih baik-baik saja,tapi tidak bagiku. Ada yang terlihat mulai tidak sama,tidak bisa disatukan.

Waktu tidak akan berputar kembali bukan ? Dan rasanya akan sulit bagiku untuk memulai kembali yang sudah-sudah. Biarkan waktu berproses.